Perhatikan Pemakaian Kalung Masker yang Jadi Tren Aksesoris

March 10, 2021

Masker, baik yang medis maupun kain, sekarang terkesan memiliki “pasangan”, yaitu strap atau kalung masker. Mungkin kamu sendiri termasuk salah satu yang sudah menggunakan ini? Kalau pun belum, kamu bisa dengan mudah melihatnya di media sosial ataupun online shop / marketplace. 

Tren penggunaan kalung masker sebenarnya sudah terlihat sejak tahun lalu. Namun dulu, hal tersebut masih dianggap asing. Bahannya sendiri ada yang terbuat dari rantai kecil, anyaman benang, manik-manik, dan lain sebagainya. Kalung seperti itu pada awalnya diperuntukkan bagi pengguna kacamata, khususnya lansia. Daya ingat yang sudah menurun membuat lansia sering kehilangan kacamata. Kalung tersebut memudahkan mereka untuk memakai kacamata kapan pun dibutuhkan. 

Konsep pembuatan dan penggunaan strap masker mungkin seperti itu juga. Karena belum terbiasa, beberapa orang sering menjatuhkan bahkan menghilangkan maskernya. Daripada seperti itu, produsen akhirnya membuat kalung masker. 

Namun sayangnya, ada beberapa efek negatif terkait kesehatan dari penggunaan kalung masker. Berikut pemaparannya!

Bagian Dalam Masker Terkontaminasi 

Dalam media sosial pribadinya, dr. Adam Prabata, kandidat Ph.D. dalam bidang Medical Science di Kobe University, Jepang, menyatakan pandangannya tentang penggunaan kalung masker. Ia mengatakan, “Ketika masker dikalungkan di dada, terdapat risiko droplet menempel di area dalam masker. Masker tersebut juga akan menempel di pakaian sehingga terjadi kontaminasi silang.” Hal senada juga dilontarkan oleh dr. Astrid Wulan Kusumoastuti. “Dengan masker digantung seperti kalung, bagian dalam masker menjadi terekspos udara luar. Risiko kontaminasi virus rentan terjadi. 

Berpotensi Jadi Kebiasaan Buruk di Masa Pandemi

Dokter Astrid sendiri menyayangkan banyaknya orang yang menyukai kalung masker ini.  “Penggunaan kalung masker bisa menjadi tameng untuk orang-orang yang malas ganti masker, khususnya masker bedah. Padahal, masker bedah itu harus dibuang begitu dilepas karena sifatnya yang sekali pakai,” dia menerangkan. 

“Selain itu, penggunaan kalung masker juga seakan-akan memperbolehkan lepas-pasang masker di tempat umum itu sah-sah saja. Padahal, hal itu keliru,” tutur dr. Astrid lagi. Jika yang dipakai adalah masker kain, lebih baik simpan di tempat yang bersih dan kedap udara daripada dikalungkan. Penggunaan kalung masker ini sebenarnya tidak direkomendasikan secara medis. Karena itulah, dr. Astrid mengatakan,

“Tidak ada tips khusus ataupun anjuran untuk membuatnya menjadi lebih aman dan efektif untuk mengendalikan penyebaran COVID-19.” Masker medis sebenarnya bukan benda yang bisa dilepas-pasang sembarangan. Masker tersebut sebenarnya diperuntukkan bagi tenaga medis di rumah sakit.

Menyemprotkan QUIXX sebelum masker untuk perlindungan ganda

Bila memang tetap menyukai fungsi atau tampilan kalung masker, kamu bisa juga pakai cara lain agar tetap terlindungi dari udara kotor saat maskermu dilepas, yaitu dengan menyemprotkan QUIXX ke hidung sebelum pakai masker. QUIXX bekerja aktif, extra lindungimu dari allergen penyebab gangguan napas diantara nya berupa partikel udara kotor, kuman dan bakteri. Untukmu yang familiar dengan rasa tidak nyaman dengan pemakaian nasal spray cair, kabar baiknya adalah QUIXX bentuknya bubuk sehingga nyaman dipakai.

Saat disemprot ke hidung, bubuk QUIXX akan berubah menjadi gel mukosa yang menempel dipermukaan lubang hidung yang mencegah partikel udara kotor, kuman dan bakteri “ terperangkap” di lini awal sehingga tidak masuk ke dalam saluran pernapasanmu. QUIXX terbuat dari bahan alami Hypercellulose Powder dan Peppermint yang telah teruji klinis. Cukup shake & pinch, bekerja cepat dalam 2 menit, QUIXX lindungi saluran pernapasan selama 6-8 jam dalam sekali pakai. Pakai QUIXX untuk meminimalisir alergi musimanmu dan juga agar kamu selalu terlindungi dari udara kotor.